MENUMBUHKAN MINAT BERTANI UNTUK PEMUDA

Penulis     : Rofiq Zainudin
Publisher   : Fathurohman
Darmadi, S.Sos, Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang/ Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Malang

Pertanian, sejatinya merupakan sektor informal yang paling sanggup menampung tenaga kerja nyaris tanpa batasan kuota. Luasnya cakupan sektor ini, membuat sektor pertanian menjadi satu-satunya sektor yang bisa menampung tenaga kerja tanpa persyaratan khusus dan kualifikasi pendidikan tertentu. Semua kalangan dapat masuk ke sektor ini, asal memiliki kemauan kuat untuk bekerja keras.

Semakin menyempitnya lahan pertanian, khususnya di pulau Jawa, juga bukan alasan untuk tidak ‘terjun‘ ke sektor ini, karena pertanian tidak terbatas hanya pada usaha tani atau budidaya semata, tapi juga meliputi aspek mekanisasi atau penyediaan alat-alat pertanian, agribisnis atau pemasaran hasil pertanian, pengolahan hasil pertanian, penangkaran bibit atau benih, dan masih banyak aspek lain yang semuanya bisa menjadi peluang bagi siapa saja untuk menekuninya.

Melihat besarnya peluang usaha di sektor  pertanian, pemerintah melalui Kementerian Pertanian terus berupaya ‘menggaet‘ kalangan muda untuk mau bekerja dan berwirausaha di bidang pertanian.Tenaga kerja di bidang pertanian saat ini memang didominasi usia tua. Karena usia muda lebih senang bekerja di industri yang upahnya lebih pasti ketimbang pertanian. Selain itu, pekerjaan di industri lebih bergengsi tanpa harus berpanas-panasan di lapangan yang hasilnya tergantung dari faktor alam.

Dok. AgroteknologiBiologi

Pemuda diharapkan tidak memandang sebelah mata sektor pertanian. Sebab, pertanian adalah sektor atau profesi yang menjanjikan. Rendahnya minat generasi muda atau pemuda untuk terjun di dunia pertanian ditengarai akibat adanya asumsi salah yang selama ini berkembang di masyarakat. Pertama, bahwa bekerja atau berusaha di bidang pertanian bagi pemuda dianggap kalah ‘gengsi‘ disbanding dengan menjadi pegawai pemerintah atau karyawan swasta. Kondisi ini membuat mereka berebut untuk bisa masuk ke lapangan kerja yang sejatinya pelauangnya sangat terbatas itu. Kedua, Profesi petani hanya pekerjaan informal, menjadi petani sering dianggap bukan sebuah pekerjaan. Penghasilan sebagai petani dianggap tidak menjanjikan dan menjamin masa depan mereka, sehingga mereka enggan untuk terjun sebagai petani.

“Saya menekankan pentingnya peran pemuda dalam pembangunan bangsa dimulai dari lingkup terkecil yaitu desa. Itu semua harus dimulai sejak dini. Usaha bidang pertanian adalah suatu prospek yang menjanjikan. Selama manusia masih makan di situlah petani masih dibutuhkan,” kata Darmadi, S.Sos Wakil Ketua Bidang Petani,Buruh dan Nelayan DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang.

Pria yang juga menjabat sebagai anggota legislatif di DPRD Kabupaten Malang ini mendorong agar para pemuda mau bekerja keras dan kembali menghidupkan kembali budaya bertani yang merupakan tradisi dan budaya para leluhur kita.
“Artinya, jika pemuda mau bekerja keras selama lima tahun bergelut dalam usaha bidang pertanian, maka hasil yang didapatkan anda dapat dinikmati selama 50 tahun. Sementara itu, jika para pemuda memilih untuk bekerja sebagai pegawai selama 50 tahun, hasil yang akan didapat hanya cukup untuk dinikmati selama 5 tahun ,” terang pria yang sehari harinya juga menggeluti usaha bercocok tanam dan aktif membina Kelompok Tani.

Darmadi juga menambahkan bahwa pemerintah, khususnya Pemerintah Daerah kabupaten Malang agar lebih giat melakukan terobosan-terobosan  program yang diharapkan mampu membuka wawasan generasi muda untuk memiliki minat bertani. Sehingga mampu memperbaiki paradigma yang banyak berkembang di tengah masyarakat terkait prospek bidang pertanian yang kurang menjanjikan.

 

Write a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *